g-dragon

g-dragon

Join The Community

Premium WordPress Themes

The Differences of Words


>Beberapa perbedaan kata yang perlu diketahui oleh para pembaca dalam mempelajari Bahasa Inggris
1.HOUSE - HOME
Home (berarti tempat tinggal,dalam negeri,rumah tangga,dan rumah tetapi bukan merupakan bangunan).
House menunjukan Bangunannya
Contoh:
a. He is at home everyday.
Berarti dia di rumah dan di sekitarnya tidak keluar kota.
b. He stay in the house
Berarti di dalam bangunan sebuah rumah.
c.Broken home : rumah tangga yang berantakan
Home product: produksi dalam negeri
Home industry : industri rumah tangga

2.STAY - LIVE
Stay(berada di segala tempat misalnya di kamar,dapur,tempat tidur,di kota,desa,dll.
Live(tinggal,di desa,kota,negara,hutan,dll)yang berarti hidup di suatu tempat.

3.FOOD - MEAL
Food(makanan yang bersifat umum yang sudah di masak atau yang belum untuk manusia atau hewan).
Meal (makanan yang sudah di hidangkan)

4.HEAR - LISTEN
hear (mendengarkan tanpa sengaja,misalnya berita,ledakan,suara,dll)
listen (mendengarkan radio,musik,lagu)

5.BAD - UGLY
Bad (jelek; mengenai kualitas atau perbuatan)
Ugly (jelek; tentang wajah, tidak cantik)


6.ANNIVERSARY - BIRTHDAY
Anniversary (hari ulang tahun untuk kota,sekolah,perusahaan,dll)
Birthday (hari ulang tahun untuk orang)

Pengertian Bahasa Iklan

Pengertian iklan :

• Berasal dari bahasa Yunani , kurang lebih pengertiannya “ mengiring orang pada gagasan “
• Secara komprehensip “ semua bentuk aktivitas untuk memperkenlakan dabn mempromosikan ide, barang, atau jasa secara non personal tentang suatu produk, merek, perusahaan, atau toko.
• Iklan ialah promosi barang, jasa, perusahaan dan ide yang harus dibayar oleh sebuah sponsor.
• Iklan merupakan suatu investasi ekonomis, dan bagi kebanyakan perusahaan dan organisasi non profit, iklan merupakan sebuah investasi yang dianggap sangat menguntungkan. (Shimp, 2000)
• Iklan memiliki berbagai macam jenis, berdasarkan sifatnya iklan dibedakan atas iklan niaga dan nonniaga. Iklan niaga dibuat untuk mempengaruhi khalayak/masyarakat supaya tertarik untuk memiliki, membeli, dan mengunakan produk yang diiklankan. Iklan nonniaga/layanan masyarakat dibuat untuk menarik perhatian masyarakat sehingga masyarakat mempunyai rasa simpati atau memberikan dukungan terhadap hal yang diiklankan.
• Berdasarkan tujuan, iklan dibedakan atas iklan penawaran/permintaan dan iklan pengumuman. Sedangkan berdasarkan ruang (space), iklan dibedakan iklan baris dan displai. Iklan baris adalah iklan yang menggunakan bahasa singkat dan padat. Iklan baris biasanya disusun berdasarkan golongan yang sama. Misalnya: iklan penjualan rumah masuk dalam kolom properti atau rumah dijual.
• Iklan lowongan pekerjaan dan mencari pekerjaan masuk golongan karier, misalnya: pada setiap surat kabar penggolongan iklan diberi nama yang berbeda-beda. Iklan baris memiliki beberapa komponen, yaitu: komponen aktivitas, produk yang diiklankan, spesifikasi produk, dan identitas pengiklan.

Pengertian Bahasa

Bahasa dibentuk oleh kaidah aturan serta pola yang tidak boleh dilanggar agar tidak menyebabkan gangguan pada komunikasi yang terjadi. Kaidah, aturan dan pola-pola yang dibentuk mencakup tata bunyi, tata bentuk dan tata kalimat. Agar komunikasi yang dilakukan berjalan lancar dengan baik, penerima dan pengirim bahasa harus harus menguasai bahasanya.

Bahasa adalah suatu sistem dari lambang bunyi arbitrer yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan dipakai oleh masyarakat komunikasi, kerja sama dan identifikasi diri. Bahasa lisan merupakan bahasa primer, sedangkan bahasa tulisan adalah bahasa sekunder. Arbitrer yaitu tidak adanya hubungan antara lambang bunyi dengan bendanya.

Jadi,dapat disimpulkan bahwa Bahasa Iklan itu adalah bahasa yang memiliki:


a. Penggunaan pilihan kata yang tepat, menarik, sopan, dan logis
b. Ungkapkan atau majas yang digunakan untuk memikat dan sugestif
c. Penyusunan secara singkat dan menonjolkan bagian-bagian yang dipentingka

Tips Bagaimana Membuat Suatu Iklan

Yang harus di pikirkan ialah,yang pertama :

Naskah iklan
1. Judul iklan :
Buatlah judul iklan dengan berdasarkan kata kunci, dan singkat, menarik perhatian. Misalkan dengan kata kunci “uang sampingan”, anda tambahkan satu atau dua kata sebaiknya judul iklan jangan lebih dari  5 kata, sebab untuk  bersaing dengan kata kunci 2 kata cukup berat pasalnya saingannya terlalu banyak.Untuk mencari kata kunci anda gunakan google keyword tools, sedangkan untuk melihat jumlah pesaing anda gunakan google search. Carilah kata kunci yang pencarinya >1.000.000 per month dan pesaingnya <10.000. Setrelah anda tambahkan kata lain, misalnya judul iklan menjadi :  Mencari uang sampingan di Internet
2. Isi Iklan :
Buatlah naskah iklan yang baik, masuk akal, sesuai dengan produk yang ditawarkan, dan masukan juga kata kunci baik sebagian maupun seluruhnya. Misalnya :  Setiap orang memiliki kesempatan dan peluang untuk dapat mencari uang sampingan di internet, asal tahu caramya. Info selengkapnya..Klik di sini..

Yang kedua :

Bagaimana cara menjual suatu produk? Satu cara yang paling kita kenal, yaitu berpromosi alias beriklan. Yup, iklan adalah cara yang paling umum untuk mencari perhatian. Mungkin karena itulah, hidup kita tak pernah lepas dari iklan. Iklan ada dimana-mana, dirumah, disekolah, dikantor, dijalanan, bahkan dikuburan.
Iklan telah menghantui dalam setiap aktivitas. Mulai dari bangun tidur, sampai ketidur lagi. Bahkan saat tertidur sekalipun, iklan terus memburu, hingga akhirnya orang jenuh, muak, marah, bahkan mengumandangkan perang terhadap iklan. Banyak tidak sedikit pula orang yang terkena penyakit allergy terhadap iklan.
So, hal itu memaksa para marketer untuk pintar-pintar membuat iklan. Mereka berusaha dan berpikir keras agar iklannya tak tampak seperti iklan. Mereka juga ingin memastikan bahwa iklan tersebut benar-benar bagus. Berbagai teknik mereka kembangkan. Berbagai penelitian mereka lakukan. Berbagai rumus mereka formulakan.
Hingga akhirnya mereka berhasil mengambil kesimpulan bahwa.... iklan yang bagus itu adalah yang:
  • Menarik perhatian orang yang tepat. Para marketer beranggapan, iklan yang bagus itu bukanlah iklan yang memancing perhatian sembarang orang. Iklan yang bagus, adalah iklan yang hanya menarik bagi dari orang-orang yang menjadi target utamanya. Kata mereka, semakin spesifik targetnya, semakin bagus.
  • Mampu mempertahankan minat sang target. Para marketer itu lalu sadar... Ok, target kita mulai tertarik, tapi sang target tampaknya sudah jenuh dan bosan dengan iklan serupa. Pada tahap ini, mereka berupaya sebisa mungkin untuk membuat sang target agar tetap tertarik. Mereka berupaya keras agar sang target tetap tertarik untuk membaca, melihat, atau mendengarkan iklan yang mereka buat.
  • Memberikan penawaran yang sulit ditolak. Lalu, para marketer itu jadi makin tahu, bahwa walau mereka berhasil mempertahankan minat sang target, mereka tetap harus memberikan penawaran yang benar-benar dramatis. Kenapa? Sebab, pada tahap ini, sang target mungkin masih tertarik untuk mencari penawaran lain, yang lebih menggiurkan.
  • Mampu membangkitkan keinginan. Para marketer itu mendapatkan fakta lain, bahwa selain memberikan penawaran yang memikat, mereka juga harus mampu membuat sang target untuk merasa bahwa produk itu adalah produk yang mereka butuhkan. Mereka harus meyakinkan sang target, bahwa tanpa produk itu, sang target akan mengalami kerugian, ketinggalan jaman, atau sejenisnya.
  • Mampu memberikan kepercayaan. Ok, target mulai merasa membutuhkan, sudah aman? Belum. Para markerter itu berpikir lagi, bagaimana jika ternyata sang target belum yakin dengan kualitasnya? So, para marketer itu berusaha meyakinkan sang target dengan memberikan kata-kata yang meyakinkan. Misalnya, "Dijamin anda pasti sukses," atau "Direkomendasikan oleh ahli anu dan anu," atau "Dijamin uang anda pasti kembali," dan seterusnya.
  • Memberi kemudahan untuk bertindak. Setelah berhasil meyakinkan sang target, tentunya para marketer itu ingin memastikan targetnya bisa mendapatkan produk yang mereka inginkan. Mereka tidak ingin sang target mengurungkan niat karena merasa kesulitan mendapatkan produk tersebut. So, para marketer itu memberikan informasi detail mengenai cara mendapatkan produk mereka.
  • Meyakinkan untuk segera bertindak. Para marketer itu akhirnya sampai pada satu keputusan, bahwa semua kerja keras mereka akan tetap sia-sia, jika ternyata iklan yang mereka buat tidak mampu meyakinkan sang target untuk segera bertindak. Mengapa? Sebab para marketer itu sadar, semakin lama sang target menunda, semakin besar pula kemungkinannya untuk lupa atau mengurungkan niat.
So, begitulah. Para marketer itu akhirnya berhasil menemukan cara untuk membuat iklan, yang membuat targetnya melakukan apa yang mereka mau. Dengan memperhatikan, menyertakan, dan mengkombinasikan semua unsur diatas, para marketer mulai membuat iklan. Lalu mengujinya, kemudian membandingkan hasilnya. Memperbaiknya, mengujinya, kemudian menganalisanya lagi. Dan seterusnya....

Terapi Air Putih

 2 Gelas Air Putih setelah bangun tidur
( membantu mengaktifkan organ-organ internal)


1 Gelas Air Putih - 30 menit sebelum makan
( membantu fungsi pencernaan dan ginjal)


1 Gelas Air Putih sebelum mandi
(  membantu menurunkan tekanan darah)


1 Gelas Air Putih sebelum tidur
( untuk menghindari stroke dan serangan jantung)

Scandal In Springs synopsis

After spending three London seasons searching for a husband, Daisy Bowman's father has told her in no uncertain terms that she must find a husband. Now. And if Daisy can't snare an appropriate suitor, she will marry the man he chooses—the ruthless and aloof Matthew Swift.
Daisy is horrified. A Bowman never admits defeat, and she decides to do whatever it takes to marry someone . . . anyone . . . other than Matthew. But she doesn't count on Matthew's unexpected charm . . . or the blazing sensuality that soon flares beyond both their control. And Daisy discovers that the man she has always hated just might turn out to be the man of her dreams.
But right at the moment of sweet surrender, a scandalous secret is uncovered . . . one that could destroy both Matthew and a love more passionate and irresistible than Daisy's wildest fantasies.
Read an excerpt:
Matthew Swift, the cool and self-possessed young man Daisy Bowman's father wants her to marry, has just forcibly removed Daisy from a scandalous parlor game. To save her reputation, Matthew has just turned down the opportunity to kiss Daisy in front of everyone. However, instead of thanking him, Daisy is furious . . .
“Why did you do that?” Daisy demanded, rounding on him immediately.
“Take you away from the games?” Disconcerted, Matthew adopted a censorious tone. “You shouldn’t have been there, and you know it.”
Daisy was so furious that her dark eyes seemed to be shooting sparks. “Where should I have been, Mr. Swift? Reading alone in the library?”
“That would have been preferable to causing a scandal.”
“No it wouldn’t have. I was exactly where I belonged, doing exactly what everyone else was doing, and everything was just fine until you ruined it!”
“I?” Matthew couldn’t believe his ears. “I ruined the evening for you?”
“Yes.”
“How?”
She glared at him accusingly. “You didn’t kiss me.”
“I . . .” Caught off-guard, Matthew stared at her in bewilderment. “I did kiss you.”
“On the hand,” Daisy said scornfully, “which means absolutely nothing.”
Matthew wasn’t certain how he had been so abruptly derailed from self-righteous superiority to affronted protest. “You should be grateful.”
“For what?”
“Isn’t it obvious? I saved your reputation.”
“If you had kissed me,” Daisy retorted, “it could only have improved my reputation. But you rejected me publicly, which means Llandrindon and Mardling and all the rest know there is something wrong with me.”
“I didn’t reject you.”
“It certainly felt like rejection, you cad!”
“I am not a cad. If I had kissed you in public, then I would be a cad.” Matthew paused before adding in baffled irritation, “And there is nothing wrong with you. Why the devil would you say that?”
“I’m a wallflower. No one ever wants to kiss me.”
This was too much. Daisy Bowman was furious because he hadn’t done the thing he had craved and dreamed of for years of his life. He had behaved honorably, damn it all, and instead of being appreciative she was angry.
“ . . . am I that undesirable?” Daisy was ranting. “Would it have been so disagreeable?”
He wanted her for so long. He had reminded himself a thousand times of all the reasons he could never have her. And it had been a hell of a lot easier to bear knowing she detested him and there was no reason to hope. But the possibility that her feelings might have changed, that she might want him in return, filled him with a dizzying thrill.
Another minute of this and he would become unhinged.
“ . . . don’t know how to do whatever it is women are supposed to do to attract men,” Daisy was saying irately. “And when I finally had a chance to gain a little experience, you--” She broke off and frowned as she saw his face. “Why do you look like that?”
“Like what?”
“As if you’re in pain.”
Pain. Yes. The kind of pain a man felt when he had lusted after a certain woman for years and found himself alone with this woman and then had to endure her complaints that he hadn’t kissed her when all he wanted was to tear her clothes off and have her right there on the floor.
She wanted experience? Matthew was ready to give her the experience of a lifetime. His body had become so unbearably hard that the brush of his trouser fabric was enough to make him wince. Struggling to control himself, he concentrated on breathing. Breathing. But there was only more arousal, until red mist had gathered at the edges of his vision.
He wasn’t aware of reaching for her but suddenly his hands were on her, hooked just beneath her arms where the yellow satin was permeated with the warmth of her body. She was light and supple, like a cat . . . he could lift her so easily, pin her against the wall . . .
Daisy’s dark eyes were wide and startled. “What are you doing?”
“I want the answer to one question,” Matthew managed to say. “Why did you call my name in there?”

Emotions crossed her face in rapid succession . . . surprise, guilt, embarrassment. Every inch of exposed skin turned pink. “I don’t know what you mean. Your name was on the paper. I had no choice but to--”
“You’re lying,” Matthew said tersely. His heart stopped as she refused to reply. She wasn’t going to deny it. Her flush deepened to crimson. “My name wasn’t on that paper,” he continued with great effort. “But you said it anyway. Why?”
They both knew there could only be one reason. Matthew closed his eyes briefly. His pulse was so hot and fast that its reckless momentum stung the insides of his veins.
He heard Daisy’s hesitant voice. “I just wanted to know what you . . . how you . . . I just wanted . . .”
This was temptation at its most brutal. Matthew tried to make himself let go of her, but his hands would not release the slim curves encased in yellow satin. It felt too good to hold her. He stared at her exquisite mouth, the subtle but delicious indentation in the center of her lower lip.  One kiss, he thought desperately.   Surely he could have at least that. But once he started . . . he wasn’t certain he could stop.
“Daisy . . .” he tried to find words to defuse the situation, but it was difficult to speak coherently. “I’m going to tell your father . . . at the first opportunity . . . I can’t marry you under any circumstances.”
She still wouldn’t look at him. “Why didn’t you tell him so right away?”
Because he had wanted to make her notice him.
Because he had wanted to pretend, just for a little while, that the thing he had never dared to dream about was just within reach.
“I wanted to annoy you,” he said.
“Well, you did!”
“But I never considered it seriously. I could never marry you.”
“Because I’m a wallflower,” she said sullenly.
“No. That’s not--”
“I’m undesirable."
“Daisy, would you stop--”
“Not even worth a single kiss.”
“All right,” Matthew snapped, finally losing the grip on his sanity. “Damn it, you win. I’ll kiss you.”
“Why?”
“Because if I don’t you’ll never stop complaining about it.”
“It’s too late now! You should have kissed me back there in the parlor but you didn’t, and now that you’ve doomed any chance I’ll ever have of being kissed by anyone else, I’m not going to settle for some half-rate consolation prize.”
“Half-rate?”
That had been a mistake. Matthew could see that Daisy realized it the instant she had said it.
She had just sealed her fate.
“I-I meant to say half-hearted,” she said breathlessly, trying to wriggle away from him. “It’s obvious you don’t want to kiss me and therefore--”
“You said half-rate.” He jerked her hard against him. “Which means now I have something to prove.”
“No you don’t,” she said quickly. “Really. You don’t--” She gave a little cry as he clamped one hand behind her neck, and all sound was muffled as he tugged her head to his.